mastermind

gemilang

Pada ‘gemilang’
Kita bersentuh asa

Kita meraba : segala huruf-huruf tak beraksara. Mengulang kisah waktu tentang gendam hitam

Kembali, punggungmu laut tak bertepi
Pertapaan pezinah
Lumuri bibirku dengan hasratmu
Basuhi sepiku dengan gairahmu

Ya, punggungmu oh punggungmu
Punggung yang dinikmati dengan segumpal dosa
Tempat asing laknat untuk berlindung dari asa yg terkutuk

Kita mungkin hanya pendosa sesaat
Yang berfikir mengapa surga ada ketika dosa seperti bukan berakhir di neraka.

-dinnys170414

KUNANG-KUNANG DALAM BIR

Cerpen: Djenar Maesa Ayu & Agus Noor

DI kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karna ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. “Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku…” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you…

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tak membiarkan dia pergi. Tak membiarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya tak pernah membuatnya kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

“Besok kita ketemu, di kafe kita dulu..”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya menelponnya.

“Kok diam…”

“Hmmm”

“Bisa kita ketemu?”

“Ya”

“Tunggu aku, “ dia terdengar berharap. “Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja suaminya mendadak kena ayan atau terserang amnesia, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu.

“Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. “Tapi aku tak mau mati dulu.”

“Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu…”

“Hahaha,” dia tertawa renyah. “Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

“Aku akan hinggap di puting susumu.”

Puting susu yang membusung sebelum ia usap dengan mulutnya. Puting susu, yang kini pasti makin membusung karena sudah dua anak menyusuinya. Pun puting susu yang masih ia rindu. Puting susu yang sarat kenangan. Puting susu yang akan terlihat mengkilap kekuningan ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

“Kunang-kunang…mau kemana? Ke tempatku, hinggap dahulu…”

Ia bersenandung sambil membuka satu persatu kancing seragam dia yang hanya memejam. Ia seperli melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang-kunang berterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan yang ia mau hinggap di puting susunya.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannnya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu, meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu bertebangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang hingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang hingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, berterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang bertebangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya germerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

“Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. “Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

“Kenapa?”

“Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

“Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

“Bohong…”

“Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya…

“Tidak. Aku tidak bohong.”

“Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: “Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: “Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

“Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu…”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar maupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah – bukan dengan dirinya – pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di puting susunya. Sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya.

“Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang, ketimbang aku menikah denganmu”.

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

“Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang tak pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, “Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya., malam pun hambir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***

MALAM makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong.

tubuh

"…dari tubuhmu aku berlindung dari nikmat yg terkutuk, dalam pelukmu aku pasrah dan takluk"

Tuhan

Tetiba saja diri ini sudah tak mampu lagi untuk berdiri kokoh seperti biasanya, airmata pun menyatu dengan hujan yang tak kunjung berhenti diluar.

Baru saya sadar, ternyata diri ini selalu kokoh hanya untuk menjadi penopang hal lainnya, memaksa diri untuk terus menerus berusaha agar lebih bermanfaat untuk orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Ya, ini lah akhirnya.. Penopang itu mulai usang dimakan tuntutan dan hal lainnya.

Papah, mamah, erry, sahabat-sahabatku sayang..

Diri ini sungguh lelah, menghadapi ujian demi ujian, dihantam kenyataan buruk hari demi hari, kesendirian lah yang selalu menemani saya setiap hari nya.

Tolong, buatkanlah rumah kecil penuh ketenangan dan kenyamanan di hati dan pikiran ini yang sudah sangat lama saya tidak rasakan.

Pah, kemana pelukan hangat itu?
Mah, kemana kasih sayang tak pernah putus itu?
Erry, kemana ketenangan yang selalu kau beri itu?

Diri ini letih..

Hujan malam ini

Di rumah yg kau bangun sedikit demi sedikit ini terus kubasuh dengan hujan yang tiada henti. Disini semua terkumpul bahkan kenangan tak mau pergi.

Hujan malam ini sungguh mengalun sangat lembut dalam kesendirian, tak ada teman tak ada sandaran dan tak ada pelipur lara.

Kemana pedoman yang selalu kau gambarkan dalam rumah ini? Kenapa sama sekali tak terlihat? Kemana tuntunan yang selalu kau ujarkan itu? Krnapa sama sekali tak terdengar?

Pah, saya sudah pulang!!
Kenapa tak kau buatkan saya sedikit ikan untuk makan seperti biasanya kau buat??

Pah, saya benar-benar sudah pulang!!
Berhentilah bermain-main, berhentilah bekerja terus-menerus hingga badanmu menjadi kurus!!

Pah, apa saya pulang ke rumah yang salah?

Pah, kenapa lutut ini sangat lemah untuk berdiri sekarang?

Jiwa yang Lemah

Puisi dan jiwa : dalam keduanya terukir sebuah janji. Dalam hal jiwa, janji itu tentang sebuah ketenangan. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna.

Tapi sampai saat ini saya masih ragu, akankah janji itu terpenuhi. Selama ini puisi untuk saya terasa seperti sebuah lukisan yang bernyanyi, kontran dengan pelbagai nada. Tak ada titik akhir dan konklusi yang segera. Seperti lukisan, puisi dan bahasa pada umumnya, adalah sebuah percakapan yang tak kunjung habis. Ada janji yang tersirat dari makna yang tertunda - bahkan tak hadir.

Sama halnya, komunikasi transendental terkait janji yang tanpa batas, tak ada yang mengetahui komunikasi itu kecuali diri saya. Komunikasi yang tidak bisa diukur sebenarnya. “totaliter aliter!” : itulah yang dipakai orang, terkadang semua terasa total dan radikal, hingga mungkin Yang Maha Lain tak dapat merangkumnya. Transenden pada akhirnya hanya mampu melintasi puisi dan imanen

Pendeknya, riwayat kata dan tubuh adalah dua entitas yang sangat tak berhingga. Dalam hal ini, ada muncul kata yg murung dan menakutkan yang sulit muncul dalam puisi “kesedihan yang ekstrim”. Puisi untuk saya sampai saat ini sulit memberi analogi dari kata-kata itu.

Saya sadar semua itu hanya akan berakhir hingga kata usai muncul dalam puisi saya nanti

dan janji itu mulai terang bersamanya..

Tuhan

Siapa tuhanku malam ini?? ………………………………………………………………………………………………. ingatan tentang senyummu

-dinnys211213

Pria itu..aduuuh

Berbalut merah
Berselimut biru

Santun menyapa hangat
Sopan membelai rasa
Seutas cerita tersirat
Segenggam asa moksa

Dalam nurani sampaikan..
Malam menjadi cerita
Malam hantarkan gendam
Malam sambut dengan kata
Malam hidup semalam

-dinnys201213

Kreasimu pada Suatu Malam

: Y


Malamku tak panjang
Malammu tak lama
Malam kita tak paham waktu

Kita temani malam dengan membara
Sehelai kain putih mengunci tapi tak menidurkan
Lampu hendak menemani namun kau cegah

Kau nampaknya serba suka kelam serba tanpa arah serba suara desah
Sama seperti asalmu dari laut, angin dan debu
Gelombangmu menyelinap dalam selangkangan ini
Hembusanmu merasuk sembunyi-sembunyi ke telinga ini
Butiranmu menebar menjadi sinyal dalam pelupuk mata ini

Wahyu macam apa yang diberikan Tuhan malam itu?
Sabdanya memaksa menanggalkan pakaian helai demi helai
Tubuh ini diam-diam menjelma dalam malaikay punggungmu

Bisakah kreasimu berhenti menggoda? Aku sudah letih bermain malam ini, tapi tolong jangan lupa kau ajak aku besok pergi melihat kreasi lain dalam naungan pikiranmu kawan.

Selamat malam..

-dinnys151113

darah

Mungkin aku mawar yang menjelma puisi

Bisa kau petik kapanpun
Wangi harumku
Namun tak kau sadari
Tanganmu berlumur darah dari duriku


-dinnys151113